Bismillahirrahmaanirrahiim

Awali Setiap Gerak dan Langkah Kita Dengan Melafalkan Basmalah

Cari Blog Ini

Minggu, 21 Februari 2010

Harapan Besar untuk Mujahid-Mujahid Kecil (2)

Sungguh perkataan ibuku tadi membuat dadaku terasa sesak. Benar apa yang beliau katakan. Aku hanya dapat menangisi dan berdiam diri di kamar kasayanganku. Perasaan bersalah dan berdosa terus menghantui akal dan kalbu. Teringat dialog yang terjadi pada Forum Tazkir yang di selenggarakan oleh Remaja Masjidku, saat itu dihadiri oleh Ketua Badan Ta'mirul Masjid yang merangkap jabatan sebagai Ketua Majelis Ta'lim Bapak-bapak juga sebagai Pembina Raudhatul Athfal di tempatku tinggal. Pada saat dialog tersebut, beliau memintaku dan kawan-kawan remaja masjid membantunya mencarikan sebidang tanah atau bangunan yang siap dijadikan tempat belajar para bocah-bocah kecil kami itu. Karena tak lama lagi masa kontraknya akan habis. Awalnya aku sempat merasakan kekhawatiran yang sama seperti beliau. Kenapa demikian, karena selain itu merupakan tanggungjawab kita bersama, Raudhatul Athfal itu juga merupakan hasil jerih payah salah senior kami. Seorang Muslimah sejati yang banyak mengajarkan arti kebersamaan padaku dan kawan-kawan pengelola TPQ yang pernah kami kelola bersama. Namun karna kesibukanku setiap harinya yang hampir-hampir mengurus diriku sendiri saja dapat terbilang sangat jarang, hingga permintaan Bapak Ketua BTM itupun dengan sangat menyesalnya telah ku abaikan. Sekarang yang ada hanyalah penyesalan di hati.

Dan benar pula kata ibuku, menangis hanya membuat kepalaku terasa sakit kembali dan akhirnya membuat rasa sakit yang kurasa semakin sakit saja. Kupaksakan otakku bekerja sebagaimana setiap harinya ia berpikir. Tapi belum juga bisa, terhalang oleh tangisanku yang semakin menjadi-jadi. Hingga terjadilah dialog dengan diriku sendiri. "Sudahlah ly, tak perlu kau tangisi semua itu, benar sudah kata-kata ibumu. Menangis tak akan memberikan solusinya, karena di sini yang diperlukan sekarang adalah gerakanmu, bukan tangisanmu. Kau sedang tidak merayu seseorang dengan tangis cengengmu itu" Ragaku mulai memberontak. Dan terdengar suara hati bertutur, "aku menangis karena ini adalah salahku juga. Coba saja kalau waktu itu aku langung bergerak tanpa mengabaikan kesibukan-kesibukanku yang lainnya, pasti ini bisa teratas. Biarlah ku menangis sampai ku merasa ouas dengan tangisanku." Kembali batinku berontak, "sampai kapan ly ? Sampai kapan kamu akan menyiksa batinmu itu dengan tangisan hingga akhirnya aku sebagai ragamu tak dapat berbuat apa-apa untuk mereka yang membutuhkanku ? Ku mohon padamu ly, untuk segeralah berhenti menangis..." Setelahnya tak lagi terjadi dialog antara keduanya. Semakin berat saja kepala ini, namun tetap bersih keras tuk dapatkan solusinya.

Hmmmm......menyerah dan berdiam diri bukanlah yang terbaik. Lebih baik ku berwudhu' dan sholat Dhuha saja sembari mengutarakan segala beban ini pada-Nya. Dan Subhanallah....setelah menunaikan sholat Dhuha, ku merasa bagaikan ada pencerahan yang ku dapatkan. Kepalaku terasa sedikit ringan, ku mulai berpikir kembali dan menemukan beberapa alternatif yang dapat membantuku mencarikan solusinya. Aku harus diskusikan ini dengan para Pembina Raudhatul Athfal, kawan-kawan remaja masjid, juga kawan-kawan di organisasiku secepatnya. Alahamdulillah kondisi diriku mulai tenang. Sembari beristirahat ku ambil handphone andalanku. Jari-jemariku mulai lincah memainkan perangkat-perangkat yang ada di dalamnya. Tak lain dan tak bukan, ku buka aplikasi dan masuk ke opera mini. Seperti biasa, browser facebook, hehehehe... Tapi kali ini tak seperti biasanya yang paling sering update status terbaru. Entah kenapa ingin sekali menulis sesuatu di catatan FBku, entah itu puisi ataupun cerpen. Dan mulailah ku mengetik satu per satu kata menjadi kalimat dan kemudian berkembanga menjadi paragraf. Dan tak terasa jadilah sebuah cerpen. Tapi belum selesai sampai di situ, maklum batas karakter kata-katanya tak mencukupi lagi.

Semangatku mulai membara dengan kata-kata di cerpen pertama itu. Ngantukku pun hilang bagaikan ditelan bumi. Kuputuskan harus kembali menggerak-gerakkan seluruh badanku ini agar secepatnya bisa tunaikan kewajiban-kewajibanku lainnya. Aktifitas seperti biasanya pun dimulai dengan mengerjakan pekerjaan rumah. Bertepatan belum ada makanan yang trsedia di meja dapur, ku beli makanan di warung depan. Saat akan menyeberang jalan, ku berpasasan dengan bapak Ketua BTM yang ku ceeritakan di atas tadi, ternyata beliau baru saja dari Masjid untuk menyaksikan para Mujahid-Mujahid kecil itu belajar dengan peralatan yang apa adanya. Bagaikan sebuah tamparan besar untukku saat menatap beliau. Mata kami saling berpandangan dan bagaikan mengisyaratkan untuk kita segera bertindak melobi kesana dan kemari demi mendapatkan sebuah bangunan baru. Kerja keras kan dimulai dalam hitungan waktu yang tak lama lagi. Aku tak boleh menyerah. Sesuap nasi yang kumakan bagaikan sudah sepiring penuh. Sembari menunggu jam ngajarku tiba, ku nongkrong di warnet dan meneruskan cerpen lanjutan tersebut. Kini, cerpen kedua itu telah selesai. Dan mungkin masih akan ada cerpen-cerpen lanjutan lainnya, karena perjuanganku dan kawan-kawan belumlah berakhir sampai di sini. Justru perjuangan baru akan dimulai. Tunggu kisah kami selanjutnya ya....

Harapan Besar untuk Mujahid-Mujahid Kecil (1)

Wajah adik-adik kecilku begitu ceria tatkala pelajaran akan segera dimulai yang sebelumnya di awali dengan doa belajar. Ada yang berdoa dengan sungguh, ada yang dengan suara lantang, bahkan ada pula yang berdoa sambil melirik ke kanan dan ke kiri khawatir di tinggal ibunya. Suara-suara itu sangat beragam macamnya saat didengar telinga. Bagi yang tak suka anak kecil, adalah memekikkan telinganya saja. Tapi, bagi seorang guru mereka, suara-suara itu merupakan sebuah proses pembelajaran yang nantinya akan menghantarkan para adik-adik kecil itu menjadi manusia seutuhnya. Itulah gambaran suasana yang sering terjadi di pagi hari pada setiap institusi pendidikan pra sekolah (Taman Kanak-kanak). Indahnya suasana itu.

Brrrrmmmm..brrrrmmmm..brrrrmmmm.. Bunyi suara starteran motor paman buatku kaget dan terbangun dari tidur pagiku usai sholat Shubuh yang dikarenakan kondisiku belum stabil untuk melakukan aktifitas rutin di pagi hari, seluruh badan terasa bagaikan habis dipukuli. Dengan sedikit kekesalan ku bertanya pada diri sendiri "aaaagghhh..suara motor siapa sih yang pagi-pagi gini sudah mengganggu tidur dan mimpi indahku yang tadi ?" Tanda tanya itu membuatku penasaran dan beranjaklah aku dari kasur empuk kesayangan menuju ke jendela kamar yang tepatnya berhadapan dengan teras rumahku. "Owhhh..ternyata pamanku yang imut itu sedang manasin motornya..sungguh menyebalkan..mengganggu mimpiku saja.." gerutuku dengan nada penuh kesal. Sesaat ku terdiam dan menikmati cerita mimpiku yang tadi. Seketika terdengar suara-suara di dalam mimpi itu, suara bocah-bocah kecil yang tampaknya sedang ramai berkomat-kamit dengan doa belajar dalam 3 bahasa (Arab, Indonesia, dan Inggris). Tiba-tiba ku tersadar dari lamunanku, suara-suara itu begitu dekat dan nyata. Kembali ku diselimuti rasa penasaran. Segera ku bergegas keluar kamar dengan jalan yang tertatih-tatih menuju kamar mandi sekedar untuk sikat gigi dan cuci muka dan kembali ke kamar buat merapikan diri yang kemudian ku siap mencari jejak suara-suara merdu itu. Subhanallah..suara itu masih ada, di manakah adanya suara itu ? Bagaikan ada sesuatu yang mendorong tubuhku hingga akhirnya ku sampai tepat di depan pagar rumah. Pendengaranku mencari-cari di mana arah suara itu berada, dan akhirnya pandanganku tertuju pada sekerumunan warga setempat di Serambi Masjid tempatku tinggal. Pelan-pelan langkah kakiku menuju ke keramaian tersebut. Ada kedamaian saat ku mendengar suara itu. Sesampai di tempat itu, betapa kaget, tercengan dan diam seribu bahasa. Tanpa bertanya ke siapa-siapa, ku telah mengetahui jawaban dari apa yang sedang terjadi di Serambi Masjid yang penuh barokah Allah itu. Seluruh rasa berkecamuk dalam dada. Tanpa terasa air mataku menetes dan membentuk sungai kecil di pipi. Masya Allah..benar-benar memprihatinkan keadaan mereka. Para mujahid-mujahid kecil itu harus berjuang untuk memperoleh sebuah ilmu pengetahuan. Hingga Serambi Masjid pun tak masalah tuk dijadikan alternatif tempat mereka belajar sementara. Sungguh ini merupakan harga mahal yang tak dapat terbayarkan. Ku melihat ada adik kecilku di tempat itu. Ia dan kawan-kawannya tetap saja tampak ceria dengan lokasi belajarnya yang baru, meskipun tempatnya tidak kondusif karena bertepatan jalan protokol, di mana kendaraan beroda empat, tiga dan dua bebas lalu lalang. Kasihan para pejuang-pejuang itu, mereka harus pindah dari rumah kontrakan yang dijadikan institusi pendidikan pra Sekolah itu dikarenakan telah habis masa kontrak dan bangunan tersebut akan dipakai oleh pemiliknya. Tangisan kecilku pun belum juga reda dan tak tertahankan.

Dengan kekuatan yang ada, ku berlari menuju rumah. Ku temukan ibuku di teras sambil merekap orderan jualannya. Untuk memastikan benar atau tidaknya apa yang kulihat tadi, akhirnya ku bertanya pada ibu, "Bu, kenapa anak2 Raudhatul Athfal itu belajarnya di Serambi Masjid ? Gerangan apakah yang sedang terjadi dengan tempat belajar mereka yang dahulu ?" tanyaku. Dengan nada santai tapi penuh makna ibuku menjawab, "sekarang Mereka pindah tempat belajarnya,nak. Mereka harus mencari alternatif tempat untuk mempertahankan perjuangan mereka. Tempat yang dulu sudah habis masa kontraknya dan bangunannya pun akan digunakan oleh pemiliknya. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Apalagi kamu nak, yang sebagai Aktivis Pelajar juga Ketua Remaja Masjid yang selalu membela hak-hak belajar para pelajar. Menangis tak dapat memberikan apa-apa untuk mereka para adik-kecilmu itu. Bergeraklah nak, himpun kekuatan untuk selesaikan persoalan ini. Mereka juga rakyat pelajar,nak. Mereka butuh tempat yang layak untuk belajar. Apakah kamu hanya akan berdiam diri setelah melihat kejadian itu ? Ataukah mengurung diri di kamar kesayanganmu itu sambil menangisi apa yang telah terjadi, yang akhirnya membuat kepalamu kembali sakit dan tak dapat berbuat apa-apa untuk mereka ?" jawaban sekaligus respon seorang ibu. Aku terdiam tanpa kata, yang terdengar hanyalah isak tangis.

Selasa, 26 Januari 2010

PII Tolak Unas

Weni : Unas untuk Pemetaan Kualitas Pendidikan

GORONTALO
– Keputusan Pemerintah untuk melanjutkan pelaksanaan Ujian Nasional (Unas) terus mendapat penolakan dari elemen pelajar. Seperti dilakukan Pelajar Islam Indonesia (PII) Provinsi Gorontalo yang menggelar demo penolakan unas, Senin (18/1) sekira pukul 08.30 Wita.

Aksi demo yang diikuti puluhan mahasiswa dan pelajar itu dimulai di bundaran tugu HI Kota Gorontalo. Koordinatoor massa aksi Rismanto dalam orasinya mengemukakan, pelaksanaan unas secara yuridis tidak sesuai dengan Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Hal ini didasarkan pada putusan Pengadilan Jakarta Pusat dan Mahkamah Agung RI. Selain itu pelaksanaan unas bertentangan dengan sistem pembelajaran pedagogi dan tidak sejalan dengan prinsip-prinsip penilaian pembelajaran.

"Ujian Nasional pada dasarnya merupakan pemborosan anggaran negara serta melanggar hak-hak anak. Tidak semua sekolah mempunyai sarana dan prasarana pendidikan seperti yang ada di kota-kota besar. Sehingga merupakan sebuah ketidakadilan jika ujian nasional dijadikan standar untuk meluluskan siswa,” tegas Rismanto.

Oleh karena itu, menurut Rismanto, pemerintah harus merubah kebijakan pelaksanaan unas dan lebih fokus agar bagaimana mencerdaskan anak bangsa tanpa harus menyiksa anak didik dengan sistem penilaian ujian yang berat.

Usai menggelar orasi di bundara tugu HI, massa melanjutkan aksinya di kantor RRI Gorontalo. Setelah itu massa aksi bergerak menuju kantor Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Provinsi Gorontalo.
Kepala Dikpora Provinsi Gorontalo Weni Liputo saat menyambut massa aksi menegaskan, unas merupakan salah satu instrumen kebutuhan untuk pemetaan kualitas pendidikan. Orientasi ujian nasional agar perencanaan pendidikan dilakukan secara tepat dan jelas.

Weni menjelaskan, kekuatiran akan terjadinya ketidakadilan yang mengakibatkan kerugian terhadap adalah hal yang rasional. Namun sesuai Peraturan Mendiknas nomor 75 tahun 2009, unas yang diselenggaran bukan sebagai penentu utama kelulusan siswa. “Ada empat hal penentuan kelulusan siswa. Yaitu pertama, siswa sudah selesaikan seluruh program-program pada jenjang pendidikan. Kedua, siswa tersebut memiliki berbudi pekerti baik dan berakhlak mulia. Ketiga, apabila ujian sekolah memenuhi syarat nilai kelulusan dan keempat apabila lulus dalam ujian nasional. Jadi sesungguhnya Unas bukan menjadi penentu utama lulus tidaknya seorang siswa,” tutur Weni.

Lebih lanjut Weni menjelaskan, unas pada daarnya untuk kebutuhan pemetaan kualitas pendidikan. Dalam artian, agar dapat terlihat dimana-saja sekolah yang harus membutuhkan penanganan serius. Sebab, tidak semua wilayah terpencil mempeoleh hasil unas rendah. Weni mencontohkan, pada tahun 2009, Kecamatan Batudaa Pantai yang justru memperoleh nilai terbaik, malah yang didekat perkotaan yang memiliki nilai buruk.

“Ya, kalau ditemukan ada hasil jelek maka perencanaan kita akan lebih ditingkatkan bagus untuk membenahi kembali sekolah yang bersangkutan. Apa penyebabnya sehingga siswa yang di wilayah kota justeru memiliki nilai buruk, itu yang kemudian kita analisis dan ditindaklanjuti apa permasalahannya,” terang Weni.

PII Tolak Unas

Weni : Unas untuk Pemetaan Kualitas Pendidikan

GORONTALO
– Keputusan Pemerintah untuk melanjutkan pelaksanaan Ujian Nasional (Unas) terus mendapat penolakan dari elemen pelajar. Seperti dilakukan Pelajar Islam Indonesia (PII) Provinsi Gorontalo yang menggelar demo penolakan unas, Senin (18/1) sekira pukul 08.30 Wita.

Aksi demo yang diikuti puluhan mahasiswa dan pelajar itu dimulai di bundaran tugu HI Kota Gorontalo. Koordinatoor massa aksi Rismanto dalam orasinya mengemukakan, pelaksanaan unas secara yuridis tidak sesuai dengan Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Hal ini didasarkan pada putusan Pengadilan Jakarta Pusat dan Mahkamah Agung RI. Selain itu pelaksanaan unas bertentangan dengan sistem pembelajaran pedagogi dan tidak sejalan dengan prinsip-prinsip penilaian pembelajaran.

"Ujian Nasional pada dasarnya merupakan pemborosan anggaran negara serta melanggar hak-hak anak. Tidak semua sekolah mempunyai sarana dan prasarana pendidikan seperti yang ada di kota-kota besar. Sehingga merupakan sebuah ketidakadilan jika ujian nasional dijadikan standar untuk meluluskan siswa,” tegas Rismanto.

Oleh karena itu, menurut Rismanto, pemerintah harus merubah kebijakan pelaksanaan unas dan lebih fokus agar bagaimana mencerdaskan anak bangsa tanpa harus menyiksa anak didik dengan sistem penilaian ujian yang berat.

Usai menggelar orasi di bundara tugu HI, massa melanjutkan aksinya di kantor RRI Gorontalo. Setelah itu massa aksi bergerak menuju kantor Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Provinsi Gorontalo.
Kepala Dikpora Provinsi Gorontalo Weni Liputo saat menyambut massa aksi menegaskan, unas merupakan salah satu instrumen kebutuhan untuk pemetaan kualitas pendidikan. Orientasi ujian nasional agar perencanaan pendidikan dilakukan secara tepat dan jelas.

Weni menjelaskan, kekuatiran akan terjadinya ketidakadilan yang mengakibatkan kerugian terhadap adalah hal yang rasional. Namun sesuai Peraturan Mendiknas nomor 75 tahun 2009, unas yang diselenggaran bukan sebagai penentu utama kelulusan siswa. “Ada empat hal penentuan kelulusan siswa. Yaitu pertama, siswa sudah selesaikan seluruh program-program pada jenjang pendidikan. Kedua, siswa tersebut memiliki berbudi pekerti baik dan berakhlak mulia. Ketiga, apabila ujian sekolah memenuhi syarat nilai kelulusan dan keempat apabila lulus dalam ujian nasional. Jadi sesungguhnya Unas bukan menjadi penentu utama lulus tidaknya seorang siswa,” tutur Weni.

Lebih lanjut Weni menjelaskan, unas pada daarnya untuk kebutuhan pemetaan kualitas pendidikan. Dalam artian, agar dapat terlihat dimana-saja sekolah yang harus membutuhkan penanganan serius. Sebab, tidak semua wilayah terpencil mempeoleh hasil unas rendah. Weni mencontohkan, pada tahun 2009, Kecamatan Batudaa Pantai yang justru memperoleh nilai terbaik, malah yang didekat perkotaan yang memiliki nilai buruk.

“Ya, kalau ditemukan ada hasil jelek maka perencanaan kita akan lebih ditingkatkan bagus untuk membenahi kembali sekolah yang bersangkutan. Apa penyebabnya sehingga siswa yang di wilayah kota justeru memiliki nilai buruk, itu yang kemudian kita analisis dan ditindaklanjuti apa permasalahannya,” terang Weni.

Benalu Tua

Aku hadir dalam batas-batas kewajaran

Di antara rekahan pohon tumbang yang mengering

Ingin sekali memberi sentuhan hijau pada daun-daun

Yang berserakan



Entahlah…

Aku hanya benalu tua yang sebentar lagi mati

Pokok tempatku bernaung terbujur kaku dimakan waktu

Ranting-ranting tempatku bermain telah tersapu



Ah aku hanyalah benalu

Yang tak tahu malu

Lihatlah daun-daun itu

Kelaparan dan berguguran karena aku



Biarlah di sisa masa

Akan aku raih saja

Daun mana yang termuda

Ambillah hijauku untukmu

Demi generasimu

Demi tunas-tunasmu

Pesan untuk Intelektual Muda (Aktivis)

“Kalau kaum politik tidak mengindahkan kepentingan rakyat, mestilah kaum penulis mengindahkannya.”
Pramoedya Ananta Toer


Sejarah negeri ini tidak pernah terlepas dari peran para pemuda yang tergabung dalam kelompok-kelompok aktivis. Mereka dengan kesadaran dan keamampuan untuk mengorganisir secara baik mampu membuat perubahan dibeberapa bidang. Contoh nyata adalah peristiwa reformasi 1998 yang dipelopori kaum mahasiswa sebagai intelektual muda. Namun saya juga tidak sepaham bila yang dikatakan kaum intelektual muda hanyalah mereka yang berada dijajaran universitas, kaum pelajar pun pernah menorehkan sejarah sebagai pelopor perubahan dan menjadi pengkritis kebijakan pemerintah pada masa itu, missal organisasi PII yang memilki basis pelajar menjadi salah satu penentang kebijakan represif Orde Baru.

Namun sayang perubahan yang terjadi bukan malah menjadikan mereka para aktifis muda ini menjadi lebih kritis dan memberikan nilai lebih dimasyarakat. Gaung reformasi yang dianggap sebagai sebuah prestasi para aktivis dalam merubah struktur dan tatananan sosial berbanding terbalik dengan yang terjadi dikalangan intelektual muda kita. Ujung-ujungnya mereka justru kembali terlena dengan gaya hidup yang tidak jelas, hedonis, kemampuan berpikir kritis yang amat minim, dan umumnya penyakit itu yang sekarang menerpa para aktifis-aktifis muda kita. Apa yang menyebabkan mereka menjadi sedemikian kaku begini?

Rabun membaca lumpuh menulis……

Saya kira itu persoalan yang menjadi penyebab kemunduran dari inteletual-intelektual muda kita khususnya para aktifis., walaupun mungkin masih banyak persoalan lain. Kemampuan mereka untuk berorasi, kemampuan untuk meyakinkan public tidak diimbangi dengan kemampuan mereka dalam membaca, buruknya kemampuan dalam hal menulis. Padahal membaca dan menulis adalah salah satu katalisator perubahan, sejarah perubahan negeri ini tidak pernah terlepas dari mereka para aktifis-aktifis yang memilki kemauan dalam memetakan pemikirannya melaui bentuk tulisan. Faktanya, hanya beberapa ekor aktivis 98 yang bersedia berjuang dalam kesunyian dan menjauhi dunia gemerlap keaktivisan untuk melahirkan tulisan-tulisan yang membawa propaganda penyadaran masyarakat (Anjrah Lelono Broto)..

Padahal tradisi menulis dan membaca memiliki nilai lebih mulia nan agung. Dalam agama pun membaca dan menulis tertuang didalam kitab suci, sebut saja ayat Iqra’ dalam surah al-‘alaq yang berarti ‘baca’,namun ummat nampaknya menanggapi ini dengan berlainan persepsi sehingga makna membaca ini adalah membaca secara empiris bukan secara visual.

Dalam Al-Qur’an sendiri terulis, “Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis.” (Qs. Al-Qolam [68] ayat 1). Dalam beberapa ayat al-Qur’an ketika ayat yang berbunyi demi matahari berarti menunjukkan sumpah Tuhan akan pentingnya peran matahari dalam siklus kehidupan kita, ’demi waktu’ mengartikan pentingnya efisiensi waktu agar dapat lebih memanfaatkannya secara produktif. Nah, ketika ayat demi pena ini tertulis, menunjukan betapa pentingnya peran dari sebuah tulisan yang mengalir melalui tinta-tinta ilmuan atau para intelektual. Malahan dalam sebuah hadis disebutkan Nabi memuji para ulama yang menuangkan gagasannya kedapam tulisan, “Di akhirat nanti, tinta para ulama itu, akan ditimbang dengan darah para syuhada”.

Situasi semakin diperparah dengan sistem pembelajaran kita yang masih menempatkan budaya membaca dan menulis kedalam status anak tiri. Coba kita lihat sendiri tidak ada mata pelajaran manapun yang mewajbkan siswanya untuk aktif dan efektif menulis, menulis hanya sebagai bumbu dalam menerima pelajaran. Ketika menulis hanya diartikan sebagai bumbu atau menempati posisi anak tiri, maka otomatis budaya membaca pun akan semakin pudar.

Oleh karenanya ‘tidak ada hal yang paling memalukan dalam system pendidikan kita kecuali lenyapnya tradisi membaca dan menulis’ (Eko Prasetyo).

Kesadaran struktural dan personal………………

Maka apa yang perlu dilakukan?? diperlukan kesaran secara personal dari para intelektual-intelektual(aktivis) ini dengan menyadari bahwa membaca dan menulis memiliki peran nomor wahid dalam melaukan perubahan. Namun ini semua bukan semata-mata kesalahan dari para intelektual ini, sistem pendidikan negeri ini pun perlu sedikit dibenahi khususnya dalam penempatan tradisi membaca dan menulis. Pendidikan negeri semestinya menempatkan posisi membaca dan menulis dalam posisi pertama sebuah pembelajaran. Malahan bila perlu mewajibkan para siswanya untuk menghasilkan sebuah karya tulis dalam bentuk apapun.Karenanya problem kemiskinan literasi ini termasuk kedalam problem struktural pendidikan kita yang musti kita kikis bersama.

Melihat fenomena diatas sudah semestinya kita membuka kacamata kesadaran kita lebih luas untuk lebih berbenah diri. Bagaimana kita ingin merubah orang lain, bagaimana kita ingin merubah kondisi lingkungan yang buruk jika kita sendri masih terkungkung dalam lautan kemiskinan ilmu pengetahuan yang disebakan oleh miskinnya literatur. Kemiskinan literatur inilah yang menurut Prie G.S yang paling sering menerpa negeri kita, bukan hanya kemiskinan secara material. Dan akhirnya negeri kita berada pada dua probelm, pertama masalah kemiskinan material yang menerpa mayoritas masyarakat kita, kedua kemiskinan ilmu yang ditandai dengan minimnya daya kritis dan kemampuan berpikir secara sehat(khususnya membaca), dan ini mulai merasuk kedalam tubuh aktifis-aktifis modern sekarang.

Bila kita ingin berkaca sekali lagi tidak ada pendiri negeri ini yang paling banyak dan produktif menulis melebihi Bung Hatta. Tulisan dan gagasannya banyak dijadikan referensi oleh beberapa kaum intelektual dan beberapa ilmuan dunia dan lokal lainnya. Alangkah sayangnya bila Bung Hatta adalah generasi terkhir negeri ini yang memliki kemampuan literasi ini.

Karena dari itu tulisan ini sengaja saya tujukan sebagai upaya penyadaran kepada para aktifis-aktifis yang masih membara, yang masih memiki nilai idelalisme murni, yang masih memiliki niat utuk melakukan perubahan, kini saatnya kita menyongsong perubahan tersebut dengan berlandaskan ilmu pengetahuan dan akal sehat, bukan lagi sekedar omongan kosong yang tidak sarat nilai apalagi dengan jalan radikal sebagai problem solve nya. Sudah saatnya aktifis bukan hanya pandai dalam berorasi namun juga pandai dalam melahirkan karya tulis yang berguna bagi kemajuan bangsa ini kelak. Semoga…….

Introspeksi Diri

Wahai orang yang mengadu,apa penyakitmu ?
Bagaimana kau bisa berangkat jika kau berpenyakitan ?
Seburuk-buruk pendosa adalah jiwa yang berlindung sebelum berangkat,sebelum berangkat.
Kau lihat duri di pohon mawar,menghalangi mata untuk melihat bahwa di sana ada bunga yang indah.
Dia adalah beban bagi kehidupan,bagi yang berpikir,kehidupan adalah beban yang berat.
Jiwa yang tidak pernah melihat sesuatu sebagai keindahan,tak akan pernah tahu apa itu keindahan.
Nikmatilah cuaca pagi selagi masih pagi.
Jangan takut pergi,sebab dia akan pergi dengan sendirinya.
Jika di kepalamu ada kesedihan,maka potonglah dan jangan kau usik agar tidak memanjang.
Burung-burung tahu apa kelemahannya,maka sungguh celaka jika kau masih tak mengerti juga.
Apa pendapatmu,jika ladang milik orang dijadikan tempat canda dan tidur siangnya.

PII Sulut Tolak Ujian Nasional

Manado (13/01/2010), penolakan atas pelaksanaa Ujian Nasional (UN) kembali terjadi. Kali ini datang dari Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) Sulawesi Utara. Dalam Press Reliesnya yang disampaikan pada Selasa (12/01/2010) kemaren melalui PJS Ketua Umum Abdul Manaf Jamil, PII menegaskan bahwa pelaksanaan Un telah mengakibatkan terjadinya pelanggaran hak-hak anak, berupa gangguan psikologis dan mental peserta didik. Ini sebuah fakta bahwa UN dengan segala resikonya telah menimbulkan korban. Sementara fakta ini berlangsung dengan konsekwensi banyaknya dana negara yang terkuras.

PII berargumen bahwa dana ini seharusnya bisa digunakan untuk mencapai tujuan nasional yakni mencerdaskan tujuan bangsa menjadi dana perusak mental penerus bangsa. Padahal lanjut mereka UN hanyalah satu dari sekian banyak persoalan pendidikan di negeri ini. Fasilitas belajar, kesejahteraan guru, sistem kurikulum adalah adalah pekerjaan besar lembaga pendidikan di Indonesia.

Selain itu juga putusan Mahkamah Agung (MA) tentang UN seharusnya dijalankan sebagaimana mestinya dengan meniadakan UN atau setidaknya menundanya hingga sarana dan prasarana kegiatan belajar mengajar terpenuhi. Mereka punberpendapat bahwa DPRD sebagai perwakilan rakyat harus mengambil sikap tegas menyikapi hal ini. Di sisi lain, PII meminta Depdiknas harus bertanggungjawab atas peningkatan kualitas guru dan merehabilitasi para korban UN.

Harian Media Sulut (13/01/2010)

Stenny Wolajan