Brrrrmmmm..brrrrmmmm..brrr
Dengan kekuatan yang ada, ku berlari menuju rumah. Ku temukan ibuku di teras sambil merekap orderan jualannya. Untuk memastikan benar atau tidaknya apa yang kulihat tadi, akhirnya ku bertanya pada ibu, "Bu, kenapa anak2 Raudhatul Athfal itu belajarnya di Serambi Masjid ? Gerangan apakah yang sedang terjadi dengan tempat belajar mereka yang dahulu ?" tanyaku. Dengan nada santai tapi penuh makna ibuku menjawab, "sekarang Mereka pindah tempat belajarnya,nak. Mereka harus mencari alternatif tempat untuk mempertahankan perjuangan mereka. Tempat yang dulu sudah habis masa kontraknya dan bangunannya pun akan digunakan oleh pemiliknya. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Apalagi kamu nak, yang sebagai Aktivis Pelajar juga Ketua Remaja Masjid yang selalu membela hak-hak belajar para pelajar. Menangis tak dapat memberikan apa-apa untuk mereka para adik-kecilmu itu. Bergeraklah nak, himpun kekuatan untuk selesaikan persoalan ini. Mereka juga rakyat pelajar,nak. Mereka butuh tempat yang layak untuk belajar. Apakah kamu hanya akan berdiam diri setelah melihat kejadian itu ? Ataukah mengurung diri di kamar kesayanganmu itu sambil menangisi apa yang telah terjadi, yang akhirnya membuat kepalamu kembali sakit dan tak dapat berbuat apa-apa untuk mereka ?" jawaban sekaligus respon seorang ibu. Aku terdiam tanpa kata, yang terdengar hanyalah isak tangis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar