Bismillahirrahmaanirrahiim

Awali Setiap Gerak dan Langkah Kita Dengan Melafalkan Basmalah

Cari Blog Ini

Minggu, 21 Februari 2010

Harapan Besar untuk Mujahid-Mujahid Kecil (1)

Wajah adik-adik kecilku begitu ceria tatkala pelajaran akan segera dimulai yang sebelumnya di awali dengan doa belajar. Ada yang berdoa dengan sungguh, ada yang dengan suara lantang, bahkan ada pula yang berdoa sambil melirik ke kanan dan ke kiri khawatir di tinggal ibunya. Suara-suara itu sangat beragam macamnya saat didengar telinga. Bagi yang tak suka anak kecil, adalah memekikkan telinganya saja. Tapi, bagi seorang guru mereka, suara-suara itu merupakan sebuah proses pembelajaran yang nantinya akan menghantarkan para adik-adik kecil itu menjadi manusia seutuhnya. Itulah gambaran suasana yang sering terjadi di pagi hari pada setiap institusi pendidikan pra sekolah (Taman Kanak-kanak). Indahnya suasana itu.

Brrrrmmmm..brrrrmmmm..brrrrmmmm.. Bunyi suara starteran motor paman buatku kaget dan terbangun dari tidur pagiku usai sholat Shubuh yang dikarenakan kondisiku belum stabil untuk melakukan aktifitas rutin di pagi hari, seluruh badan terasa bagaikan habis dipukuli. Dengan sedikit kekesalan ku bertanya pada diri sendiri "aaaagghhh..suara motor siapa sih yang pagi-pagi gini sudah mengganggu tidur dan mimpi indahku yang tadi ?" Tanda tanya itu membuatku penasaran dan beranjaklah aku dari kasur empuk kesayangan menuju ke jendela kamar yang tepatnya berhadapan dengan teras rumahku. "Owhhh..ternyata pamanku yang imut itu sedang manasin motornya..sungguh menyebalkan..mengganggu mimpiku saja.." gerutuku dengan nada penuh kesal. Sesaat ku terdiam dan menikmati cerita mimpiku yang tadi. Seketika terdengar suara-suara di dalam mimpi itu, suara bocah-bocah kecil yang tampaknya sedang ramai berkomat-kamit dengan doa belajar dalam 3 bahasa (Arab, Indonesia, dan Inggris). Tiba-tiba ku tersadar dari lamunanku, suara-suara itu begitu dekat dan nyata. Kembali ku diselimuti rasa penasaran. Segera ku bergegas keluar kamar dengan jalan yang tertatih-tatih menuju kamar mandi sekedar untuk sikat gigi dan cuci muka dan kembali ke kamar buat merapikan diri yang kemudian ku siap mencari jejak suara-suara merdu itu. Subhanallah..suara itu masih ada, di manakah adanya suara itu ? Bagaikan ada sesuatu yang mendorong tubuhku hingga akhirnya ku sampai tepat di depan pagar rumah. Pendengaranku mencari-cari di mana arah suara itu berada, dan akhirnya pandanganku tertuju pada sekerumunan warga setempat di Serambi Masjid tempatku tinggal. Pelan-pelan langkah kakiku menuju ke keramaian tersebut. Ada kedamaian saat ku mendengar suara itu. Sesampai di tempat itu, betapa kaget, tercengan dan diam seribu bahasa. Tanpa bertanya ke siapa-siapa, ku telah mengetahui jawaban dari apa yang sedang terjadi di Serambi Masjid yang penuh barokah Allah itu. Seluruh rasa berkecamuk dalam dada. Tanpa terasa air mataku menetes dan membentuk sungai kecil di pipi. Masya Allah..benar-benar memprihatinkan keadaan mereka. Para mujahid-mujahid kecil itu harus berjuang untuk memperoleh sebuah ilmu pengetahuan. Hingga Serambi Masjid pun tak masalah tuk dijadikan alternatif tempat mereka belajar sementara. Sungguh ini merupakan harga mahal yang tak dapat terbayarkan. Ku melihat ada adik kecilku di tempat itu. Ia dan kawan-kawannya tetap saja tampak ceria dengan lokasi belajarnya yang baru, meskipun tempatnya tidak kondusif karena bertepatan jalan protokol, di mana kendaraan beroda empat, tiga dan dua bebas lalu lalang. Kasihan para pejuang-pejuang itu, mereka harus pindah dari rumah kontrakan yang dijadikan institusi pendidikan pra Sekolah itu dikarenakan telah habis masa kontrak dan bangunan tersebut akan dipakai oleh pemiliknya. Tangisan kecilku pun belum juga reda dan tak tertahankan.

Dengan kekuatan yang ada, ku berlari menuju rumah. Ku temukan ibuku di teras sambil merekap orderan jualannya. Untuk memastikan benar atau tidaknya apa yang kulihat tadi, akhirnya ku bertanya pada ibu, "Bu, kenapa anak2 Raudhatul Athfal itu belajarnya di Serambi Masjid ? Gerangan apakah yang sedang terjadi dengan tempat belajar mereka yang dahulu ?" tanyaku. Dengan nada santai tapi penuh makna ibuku menjawab, "sekarang Mereka pindah tempat belajarnya,nak. Mereka harus mencari alternatif tempat untuk mempertahankan perjuangan mereka. Tempat yang dulu sudah habis masa kontraknya dan bangunannya pun akan digunakan oleh pemiliknya. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Apalagi kamu nak, yang sebagai Aktivis Pelajar juga Ketua Remaja Masjid yang selalu membela hak-hak belajar para pelajar. Menangis tak dapat memberikan apa-apa untuk mereka para adik-kecilmu itu. Bergeraklah nak, himpun kekuatan untuk selesaikan persoalan ini. Mereka juga rakyat pelajar,nak. Mereka butuh tempat yang layak untuk belajar. Apakah kamu hanya akan berdiam diri setelah melihat kejadian itu ? Ataukah mengurung diri di kamar kesayanganmu itu sambil menangisi apa yang telah terjadi, yang akhirnya membuat kepalamu kembali sakit dan tak dapat berbuat apa-apa untuk mereka ?" jawaban sekaligus respon seorang ibu. Aku terdiam tanpa kata, yang terdengar hanyalah isak tangis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar