Sungguh perkataan ibuku tadi membuat dadaku terasa sesak. Benar apa yang beliau katakan. Aku hanya dapat menangisi dan berdiam diri di kamar kasayanganku. Perasaan bersalah dan berdosa terus menghantui akal dan kalbu. Teringat dialog yang terjadi pada Forum Tazkir yang di selenggarakan oleh Remaja Masjidku, saat itu dihadiri oleh Ketua Badan Ta'mirul Masjid yang merangkap jabatan sebagai Ketua Majelis Ta'lim Bapak-bapak juga sebagai Pembina Raudhatul Athfal di tempatku tinggal. Pada saat dialog tersebut, beliau memintaku dan kawan-kawan remaja masjid membantunya mencarikan sebidang tanah atau bangunan yang siap dijadikan tempat belajar para bocah-bocah kecil kami itu. Karena tak lama lagi masa kontraknya akan habis. Awalnya aku sempat merasakan kekhawatiran yang sama seperti beliau. Kenapa demikian, karena selain itu merupakan tanggungjawab kita bersama, Raudhatul Athfal itu juga merupakan hasil jerih payah salah senior kami. Seorang Muslimah sejati yang banyak mengajarkan arti kebersamaan padaku dan kawan-kawan pengelola TPQ yang pernah kami kelola bersama. Namun karna kesibukanku setiap harinya yang hampir-hampir mengurus diriku sendiri saja dapat terbilang sangat jarang, hingga permintaan Bapak Ketua BTM itupun dengan sangat menyesalnya telah ku abaikan. Sekarang yang ada hanyalah penyesalan di hati.
Dan benar pula kata ibuku, menangis hanya membuat kepalaku terasa sakit kembali dan akhirnya membuat rasa sakit yang kurasa semakin sakit saja. Kupaksakan otakku bekerja sebagaimana setiap harinya ia berpikir. Tapi belum juga bisa, terhalang oleh tangisanku yang semakin menjadi-jadi. Hingga terjadilah dialog dengan diriku sendiri. "Sudahlah ly, tak perlu kau tangisi semua itu, benar sudah kata-kata ibumu. Menangis tak akan memberikan solusinya, karena di sini yang diperlukan sekarang adalah gerakanmu, bukan tangisanmu. Kau sedang tidak merayu seseorang dengan tangis cengengmu itu" Ragaku mulai memberontak. Dan terdengar suara hati bertutur, "aku menangis karena ini adalah salahku juga. Coba saja kalau waktu itu aku langung bergerak tanpa mengabaikan kesibukan-kesibukanku yang lainnya, pasti ini bisa teratas. Biarlah ku menangis sampai ku merasa ouas dengan tangisanku." Kembali batinku berontak, "sampai kapan ly ? Sampai kapan kamu akan menyiksa batinmu itu dengan tangisan hingga akhirnya aku sebagai ragamu tak dapat berbuat apa-apa untuk mereka yang membutuhkanku ? Ku mohon padamu ly, untuk segeralah berhenti menangis..." Setelahnya tak lagi terjadi dialog antara keduanya. Semakin berat saja kepala ini, namun tetap bersih keras tuk dapatkan solusinya.
Hmmmm......menyerah dan berdiam diri bukanlah yang terbaik. Lebih baik ku berwudhu' dan sholat Dhuha saja sembari mengutarakan segala beban ini pada-Nya. Dan Subhanallah....setelah menunaikan sholat Dhuha, ku merasa bagaikan ada pencerahan yang ku dapatkan. Kepalaku terasa sedikit ringan, ku mulai berpikir kembali dan menemukan beberapa alternatif yang dapat membantuku mencarikan solusinya. Aku harus diskusikan ini dengan para Pembina Raudhatul Athfal, kawan-kawan remaja masjid, juga kawan-kawan di organisasiku secepatnya. Alahamdulillah kondisi diriku mulai tenang. Sembari beristirahat ku ambil handphone andalanku. Jari-jemariku mulai lincah memainkan perangkat-perangkat yang ada di dalamnya. Tak lain dan tak bukan, ku buka aplikasi dan masuk ke opera mini. Seperti biasa, browser facebook, hehehehe... Tapi kali ini tak seperti biasanya yang paling sering update status terbaru. Entah kenapa ingin sekali menulis sesuatu di catatan FBku, entah itu puisi ataupun cerpen. Dan mulailah ku mengetik satu per satu kata menjadi kalimat dan kemudian berkembanga menjadi paragraf. Dan tak terasa jadilah sebuah cerpen. Tapi belum selesai sampai di situ, maklum batas karakter kata-katanya tak mencukupi lagi.
Semangatku mulai membara dengan kata-kata di cerpen pertama itu. Ngantukku pun hilang bagaikan ditelan bumi. Kuputuskan harus kembali menggerak-gerakkan seluruh badanku ini agar secepatnya bisa tunaikan kewajiban-kewajibanku lainnya. Aktifitas seperti biasanya pun dimulai dengan mengerjakan pekerjaan rumah. Bertepatan belum ada makanan yang trsedia di meja dapur, ku beli makanan di warung depan. Saat akan menyeberang jalan, ku berpasasan dengan bapak Ketua BTM yang ku ceeritakan di atas tadi, ternyata beliau baru saja dari Masjid untuk menyaksikan para Mujahid-Mujahid kecil itu belajar dengan peralatan yang apa adanya. Bagaikan sebuah tamparan besar untukku saat menatap beliau. Mata kami saling berpandangan dan bagaikan mengisyaratkan untuk kita segera bertindak melobi kesana dan kemari demi mendapatkan sebuah bangunan baru. Kerja keras kan dimulai dalam hitungan waktu yang tak lama lagi. Aku tak boleh menyerah. Sesuap nasi yang kumakan bagaikan sudah sepiring penuh. Sembari menunggu jam ngajarku tiba, ku nongkrong di warnet dan meneruskan cerpen lanjutan tersebut. Kini, cerpen kedua itu telah selesai. Dan mungkin masih akan ada cerpen-cerpen lanjutan lainnya, karena perjuanganku dan kawan-kawan belumlah berakhir sampai di sini. Justru perjuangan baru akan dimulai. Tunggu kisah kami selanjutnya ya....
