Bismillahirrahmaanirrahiim

Awali Setiap Gerak dan Langkah Kita Dengan Melafalkan Basmalah

Cari Blog Ini

Minggu, 21 Februari 2010

Harapan Besar untuk Mujahid-Mujahid Kecil (2)

Sungguh perkataan ibuku tadi membuat dadaku terasa sesak. Benar apa yang beliau katakan. Aku hanya dapat menangisi dan berdiam diri di kamar kasayanganku. Perasaan bersalah dan berdosa terus menghantui akal dan kalbu. Teringat dialog yang terjadi pada Forum Tazkir yang di selenggarakan oleh Remaja Masjidku, saat itu dihadiri oleh Ketua Badan Ta'mirul Masjid yang merangkap jabatan sebagai Ketua Majelis Ta'lim Bapak-bapak juga sebagai Pembina Raudhatul Athfal di tempatku tinggal. Pada saat dialog tersebut, beliau memintaku dan kawan-kawan remaja masjid membantunya mencarikan sebidang tanah atau bangunan yang siap dijadikan tempat belajar para bocah-bocah kecil kami itu. Karena tak lama lagi masa kontraknya akan habis. Awalnya aku sempat merasakan kekhawatiran yang sama seperti beliau. Kenapa demikian, karena selain itu merupakan tanggungjawab kita bersama, Raudhatul Athfal itu juga merupakan hasil jerih payah salah senior kami. Seorang Muslimah sejati yang banyak mengajarkan arti kebersamaan padaku dan kawan-kawan pengelola TPQ yang pernah kami kelola bersama. Namun karna kesibukanku setiap harinya yang hampir-hampir mengurus diriku sendiri saja dapat terbilang sangat jarang, hingga permintaan Bapak Ketua BTM itupun dengan sangat menyesalnya telah ku abaikan. Sekarang yang ada hanyalah penyesalan di hati.

Dan benar pula kata ibuku, menangis hanya membuat kepalaku terasa sakit kembali dan akhirnya membuat rasa sakit yang kurasa semakin sakit saja. Kupaksakan otakku bekerja sebagaimana setiap harinya ia berpikir. Tapi belum juga bisa, terhalang oleh tangisanku yang semakin menjadi-jadi. Hingga terjadilah dialog dengan diriku sendiri. "Sudahlah ly, tak perlu kau tangisi semua itu, benar sudah kata-kata ibumu. Menangis tak akan memberikan solusinya, karena di sini yang diperlukan sekarang adalah gerakanmu, bukan tangisanmu. Kau sedang tidak merayu seseorang dengan tangis cengengmu itu" Ragaku mulai memberontak. Dan terdengar suara hati bertutur, "aku menangis karena ini adalah salahku juga. Coba saja kalau waktu itu aku langung bergerak tanpa mengabaikan kesibukan-kesibukanku yang lainnya, pasti ini bisa teratas. Biarlah ku menangis sampai ku merasa ouas dengan tangisanku." Kembali batinku berontak, "sampai kapan ly ? Sampai kapan kamu akan menyiksa batinmu itu dengan tangisan hingga akhirnya aku sebagai ragamu tak dapat berbuat apa-apa untuk mereka yang membutuhkanku ? Ku mohon padamu ly, untuk segeralah berhenti menangis..." Setelahnya tak lagi terjadi dialog antara keduanya. Semakin berat saja kepala ini, namun tetap bersih keras tuk dapatkan solusinya.

Hmmmm......menyerah dan berdiam diri bukanlah yang terbaik. Lebih baik ku berwudhu' dan sholat Dhuha saja sembari mengutarakan segala beban ini pada-Nya. Dan Subhanallah....setelah menunaikan sholat Dhuha, ku merasa bagaikan ada pencerahan yang ku dapatkan. Kepalaku terasa sedikit ringan, ku mulai berpikir kembali dan menemukan beberapa alternatif yang dapat membantuku mencarikan solusinya. Aku harus diskusikan ini dengan para Pembina Raudhatul Athfal, kawan-kawan remaja masjid, juga kawan-kawan di organisasiku secepatnya. Alahamdulillah kondisi diriku mulai tenang. Sembari beristirahat ku ambil handphone andalanku. Jari-jemariku mulai lincah memainkan perangkat-perangkat yang ada di dalamnya. Tak lain dan tak bukan, ku buka aplikasi dan masuk ke opera mini. Seperti biasa, browser facebook, hehehehe... Tapi kali ini tak seperti biasanya yang paling sering update status terbaru. Entah kenapa ingin sekali menulis sesuatu di catatan FBku, entah itu puisi ataupun cerpen. Dan mulailah ku mengetik satu per satu kata menjadi kalimat dan kemudian berkembanga menjadi paragraf. Dan tak terasa jadilah sebuah cerpen. Tapi belum selesai sampai di situ, maklum batas karakter kata-katanya tak mencukupi lagi.

Semangatku mulai membara dengan kata-kata di cerpen pertama itu. Ngantukku pun hilang bagaikan ditelan bumi. Kuputuskan harus kembali menggerak-gerakkan seluruh badanku ini agar secepatnya bisa tunaikan kewajiban-kewajibanku lainnya. Aktifitas seperti biasanya pun dimulai dengan mengerjakan pekerjaan rumah. Bertepatan belum ada makanan yang trsedia di meja dapur, ku beli makanan di warung depan. Saat akan menyeberang jalan, ku berpasasan dengan bapak Ketua BTM yang ku ceeritakan di atas tadi, ternyata beliau baru saja dari Masjid untuk menyaksikan para Mujahid-Mujahid kecil itu belajar dengan peralatan yang apa adanya. Bagaikan sebuah tamparan besar untukku saat menatap beliau. Mata kami saling berpandangan dan bagaikan mengisyaratkan untuk kita segera bertindak melobi kesana dan kemari demi mendapatkan sebuah bangunan baru. Kerja keras kan dimulai dalam hitungan waktu yang tak lama lagi. Aku tak boleh menyerah. Sesuap nasi yang kumakan bagaikan sudah sepiring penuh. Sembari menunggu jam ngajarku tiba, ku nongkrong di warnet dan meneruskan cerpen lanjutan tersebut. Kini, cerpen kedua itu telah selesai. Dan mungkin masih akan ada cerpen-cerpen lanjutan lainnya, karena perjuanganku dan kawan-kawan belumlah berakhir sampai di sini. Justru perjuangan baru akan dimulai. Tunggu kisah kami selanjutnya ya....

Harapan Besar untuk Mujahid-Mujahid Kecil (1)

Wajah adik-adik kecilku begitu ceria tatkala pelajaran akan segera dimulai yang sebelumnya di awali dengan doa belajar. Ada yang berdoa dengan sungguh, ada yang dengan suara lantang, bahkan ada pula yang berdoa sambil melirik ke kanan dan ke kiri khawatir di tinggal ibunya. Suara-suara itu sangat beragam macamnya saat didengar telinga. Bagi yang tak suka anak kecil, adalah memekikkan telinganya saja. Tapi, bagi seorang guru mereka, suara-suara itu merupakan sebuah proses pembelajaran yang nantinya akan menghantarkan para adik-adik kecil itu menjadi manusia seutuhnya. Itulah gambaran suasana yang sering terjadi di pagi hari pada setiap institusi pendidikan pra sekolah (Taman Kanak-kanak). Indahnya suasana itu.

Brrrrmmmm..brrrrmmmm..brrrrmmmm.. Bunyi suara starteran motor paman buatku kaget dan terbangun dari tidur pagiku usai sholat Shubuh yang dikarenakan kondisiku belum stabil untuk melakukan aktifitas rutin di pagi hari, seluruh badan terasa bagaikan habis dipukuli. Dengan sedikit kekesalan ku bertanya pada diri sendiri "aaaagghhh..suara motor siapa sih yang pagi-pagi gini sudah mengganggu tidur dan mimpi indahku yang tadi ?" Tanda tanya itu membuatku penasaran dan beranjaklah aku dari kasur empuk kesayangan menuju ke jendela kamar yang tepatnya berhadapan dengan teras rumahku. "Owhhh..ternyata pamanku yang imut itu sedang manasin motornya..sungguh menyebalkan..mengganggu mimpiku saja.." gerutuku dengan nada penuh kesal. Sesaat ku terdiam dan menikmati cerita mimpiku yang tadi. Seketika terdengar suara-suara di dalam mimpi itu, suara bocah-bocah kecil yang tampaknya sedang ramai berkomat-kamit dengan doa belajar dalam 3 bahasa (Arab, Indonesia, dan Inggris). Tiba-tiba ku tersadar dari lamunanku, suara-suara itu begitu dekat dan nyata. Kembali ku diselimuti rasa penasaran. Segera ku bergegas keluar kamar dengan jalan yang tertatih-tatih menuju kamar mandi sekedar untuk sikat gigi dan cuci muka dan kembali ke kamar buat merapikan diri yang kemudian ku siap mencari jejak suara-suara merdu itu. Subhanallah..suara itu masih ada, di manakah adanya suara itu ? Bagaikan ada sesuatu yang mendorong tubuhku hingga akhirnya ku sampai tepat di depan pagar rumah. Pendengaranku mencari-cari di mana arah suara itu berada, dan akhirnya pandanganku tertuju pada sekerumunan warga setempat di Serambi Masjid tempatku tinggal. Pelan-pelan langkah kakiku menuju ke keramaian tersebut. Ada kedamaian saat ku mendengar suara itu. Sesampai di tempat itu, betapa kaget, tercengan dan diam seribu bahasa. Tanpa bertanya ke siapa-siapa, ku telah mengetahui jawaban dari apa yang sedang terjadi di Serambi Masjid yang penuh barokah Allah itu. Seluruh rasa berkecamuk dalam dada. Tanpa terasa air mataku menetes dan membentuk sungai kecil di pipi. Masya Allah..benar-benar memprihatinkan keadaan mereka. Para mujahid-mujahid kecil itu harus berjuang untuk memperoleh sebuah ilmu pengetahuan. Hingga Serambi Masjid pun tak masalah tuk dijadikan alternatif tempat mereka belajar sementara. Sungguh ini merupakan harga mahal yang tak dapat terbayarkan. Ku melihat ada adik kecilku di tempat itu. Ia dan kawan-kawannya tetap saja tampak ceria dengan lokasi belajarnya yang baru, meskipun tempatnya tidak kondusif karena bertepatan jalan protokol, di mana kendaraan beroda empat, tiga dan dua bebas lalu lalang. Kasihan para pejuang-pejuang itu, mereka harus pindah dari rumah kontrakan yang dijadikan institusi pendidikan pra Sekolah itu dikarenakan telah habis masa kontrak dan bangunan tersebut akan dipakai oleh pemiliknya. Tangisan kecilku pun belum juga reda dan tak tertahankan.

Dengan kekuatan yang ada, ku berlari menuju rumah. Ku temukan ibuku di teras sambil merekap orderan jualannya. Untuk memastikan benar atau tidaknya apa yang kulihat tadi, akhirnya ku bertanya pada ibu, "Bu, kenapa anak2 Raudhatul Athfal itu belajarnya di Serambi Masjid ? Gerangan apakah yang sedang terjadi dengan tempat belajar mereka yang dahulu ?" tanyaku. Dengan nada santai tapi penuh makna ibuku menjawab, "sekarang Mereka pindah tempat belajarnya,nak. Mereka harus mencari alternatif tempat untuk mempertahankan perjuangan mereka. Tempat yang dulu sudah habis masa kontraknya dan bangunannya pun akan digunakan oleh pemiliknya. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Apalagi kamu nak, yang sebagai Aktivis Pelajar juga Ketua Remaja Masjid yang selalu membela hak-hak belajar para pelajar. Menangis tak dapat memberikan apa-apa untuk mereka para adik-kecilmu itu. Bergeraklah nak, himpun kekuatan untuk selesaikan persoalan ini. Mereka juga rakyat pelajar,nak. Mereka butuh tempat yang layak untuk belajar. Apakah kamu hanya akan berdiam diri setelah melihat kejadian itu ? Ataukah mengurung diri di kamar kesayanganmu itu sambil menangisi apa yang telah terjadi, yang akhirnya membuat kepalamu kembali sakit dan tak dapat berbuat apa-apa untuk mereka ?" jawaban sekaligus respon seorang ibu. Aku terdiam tanpa kata, yang terdengar hanyalah isak tangis.